Jumat, 02 November 2018

Aksara cinta

        Gemuruh shalawat dan suara rebana menghias malam Arafah, Abdurrahman atau sering disapa Amang malah asyik memainkan gadget mentang-mentang duduk di belakang, padahal Amang bisa vokal atau menabuh alat-alat rebana, tapi entah mengapa ia memilih duduk di belakang atau sering kali lebih memilih membuat kopi untuk acara maulid.

       Tak pernah tampil di depan layar membuat Amang tak lagi digemari santri putri, hanya Cinta; gadis yang tak pernah bosan memperhatikan semua hal tentang Amang, sayangnya Amang malah jatuh hati pada Clara, gadis yang mengagumi Amang hanya ketika Amang sering vokal atau tampil di depan layar. Ketika Amang mundur, Clara memilih Ryan yang sering tampil di muka jama’ah.

      Kecewa dengan Clara, Amang pergi meninggalkan pondok pesantren cukup lama, tak lagi menghubungi Clara seperti biasanya. Ketika Clara mulai kesepian, Clara menghubungi Amang seperti saat Clara masih mengagumi Amang ketika ia sering menjadi vokal rebana. Tak ada tanggapan dari Amang seolah Amang adalah idola yang tak menghargai fansnya.

        Lama di rumah membuatnya rindu pada Cinta, gadis yang tak pernah diperhatikannya itu mulai muncul di benaknya. Amang pun mulai menyadari dan menghargai perasaan Cinta, ia ingin menebus kesalahannya telah menyia-nyiakan orang yang tulus. Amang kembali ke pesantren untuk menemui Cinta, sayangnya Cinta pun pergi dan tak akan pernah kembali.

       Amang membuka lembaran lama dari catatan tentang Cinta, menguak rahasia-rahasia tentang Cinta yang terpendam di bibir Clara. Semua tentang Cinta. Banyak hal yang tak diketahui Amang tentang Cinta sebab Amang hanya memperhatikan Clara dan berharap Clara akan jadi masa depannya meski nyatanya perhatian Clara hanya sesaat, tinggal sesal dalam diri Amang telah mengabaikan Cinta.

        Ilham Abdurrahman, nama itu tertulis di buku-buku dan kitab-kitab Cinta dan semua hal tentang Amang diperhatikan sedetail mungkin oleh Cinta. Meski tak lagi vokal dalam acara maulid, Amang sesekali adzan di masjid dan adzannya ditirukan Cinta dari balik jendela kamar tiga, Cinta hafal setiap lengkuk nada yang dilantunkan Amang meski ia tak mengerti olah vokal, bahkan ketika nadanya amat tinggi, Cinta tetap menirukan adzannya meski sumbang dan nafasnya tak sampai, sejenis kasih tak sampai.

      Fahri dan Amang tak lagi akrab, mereka seperti orang yang tak saling kenal. Fahri jauh dari Amang karena mempertahankan Clara, sedang Amang memilih diam dari keduanya agar tak dicap sebagai perusak hubungan orang, sempat dibilang sombong oleh Clara, tapi Amang tetap acuh demi menjaga perasaan Fahri.

          “Ada yang bilang aku sombong padahal kan sebaliknya,” inbox dari Clara.
              “☺,” balas Amang.
          “Hanya itu?”
              “(y)
      Emotikon senyum dan jempol serasa cukup untuk mewakili kebohongan rasa yang dialami Ryan, ia amat kecewa pada Clara yang pernah ikrar atas nama Allah untuk tidak berpacaran bahkan kepada Amang sekalipun, tapi Clara melupakannya.







       “Jika aku di posisimu, aku pasti saaaannngat menyesal telah menyia-nyiakan Cinta,” ucap Farhan dengan gaya bicara yang lebay.

      “Gini, vroh … aku di sini, kan, sebagai anak ndalem, nggak bisa ngaji, ya wajar, donk, kalau aku mengharap Ustadzah Clara, biar anakku pinter seperti dia,” jelas Amang.

          “Faktanya? Apakah dia benar-benar ustadzah yang solikuuuaaahhh?”

   “Nah itu dia yang sangat kusesalkan,”

          “Dan ketika kamu mencari Cinta, Cinta sudah di pelukan orang lain,”

     “Ketipu aku, mulut ustadzah itu bikin diabetes,”

     “Padahal Ustadzah itu sipit, pesek, Cuma menang putih dan seksi, coba bandingkan dengan Cinta, dia itu perpek (mungkin maksudnya perfect), hanya saja dia amat polos, kasarnya dia itu bodo,”

     “Andai waktu bisa diulang, aku ingin memperbaiki diri dan menghargai perasaan orang lain. Tapi nggak papa wes, aku dapet sorban biru dikasih Cinta,”

          “Terus, apa yang kamu dapet dari ustadzah Clara?”

                  “Luka,”

         “Kok masih bisa tersenyum?”

    “Lupa itu manusiawi, Clara lupa dengan janji berarti ia manusia, bukan bidadari. Lagian aku murah senyum,”

        “Sok kamu. Sekarang Clara gimana?”

      “Aku cuekin, dia sempet inbox bilang aku sombong, aku cuma bales emotikon senyum, dia inbox lagi, aku bales emotikon senyum yang lebih ramah lagi hingga akhirnya dia sebel bel bel, aku bales emotikon jempol,”

     “Mungkin Clara ada masalah dengan Ustad Fahri, makanya Clara ngrasa butuh kamu,”

             “Aku, sih, cuek,”

     “Ntar aku lihat inboxnya,”

            “Emang kamu nggak bawa hape?”

      “Masih aku charge di kamar,”

            “Tega nggak tega, sih, nyuekin ustadzah. Tapi apa salahnya?”

      “Denger-denger, persahabatannya dengan Vera dan Lusi juga bubar, Renny juga males sama Clara. Aneh, sih, persahabatan dikasih nama, kaya genk motor aja,”

       Perbincangan Amang dan Farhan menghangatkan suasana, persahabatan mereka lebih indah dari senyum Clara. Biar mereka abdi ndalem, mereka punya hal yang lebih berharga dari pada cinta buta. Kedekatan mereka tetap terjaga, tak seperti Clara yang mengkhianati Cinta, Vera, dan Lusiana. Kini Clara sendiri, tak punya teman. Renny, gadis yang mulai dewasa yang dirawat Clara sejak kecil pun kecewa, Renny pun meninggalkan Clara. Pantas jika Clara inbox Amang; Clara kesepian.







      Ketika Cinta merasa terabaikan, ia sakit-sakitan hingga harus dilarikan ke rumah sakit dan terpaksa meninggalkan pelajaran di sekolah dan pesantren untuk waktu yang cukup lama hingga test semester pun ia tinggalkan selama tiga hari. Seminggu setelah dirawat di rumah sakit, Cinta mulai membaik.

       Di rumah, Cinta terbujuk godaan penggembala yang ditugaskan untuk mencari domba(nya) Yesus yang katanya tersesat, perhatiannya yang amat berlebih membuat Cinta serba tak enak hati kepadanya. Merasa tak ada pilihan lain, Cinta terpaksa mengikuti kemauan sang penggembala pergi merantau bersama ke Bandung. Padahal pilihannya untuk tetap tinggal di pesantren dan melanjutkan ngajinya agar semakin fasih, tapi ia merasa terabaikan dan tersakiti, pun ayahnya tak lagi sanggup membiayai. Mau tak mau, Cinta meninggalkan pesantren dan semua kenangannya bersama Amang usai menyelesaikan ujian sekolah.

     Sebulan dari kelulusan Cinta, Amang menghubunginya melalui SMS ke nomor Cinta yang didapatnya dari Renny. Amang menghubungi Cinta atas nama Renny, Amang ingin tahu banyak hal tentang Cinta yang selama ini disembunyikan Clara.

            “Kak Cinta!”

      “Iya, siapa?” Cinta tak mengenali bahasa SMS Renny sebab banyak yang menyapanya Kak.

            “Kak Cinta, mah …” Amang memang pandai menirukan SMS ala perempuan.

      “Kamu Clara apa Vera?”

              “Bukan keduanya,”

       “Oh, Renny? Ya Allah kakak kangen, sayang!”

                “Aku juga, kak. Tapi kalau mau ketemu susah, ya, kak? Kamu sekarang, kan, di Bandung,”

        “Tahu dari siapa, Ren?”

                “Kak Amang,”

       “Ya Allah, dia tahu banyak hal tentang aku, ya, Ren? Oh, ya, kabar kak Amang gimana, sayang?”

                “Galau, tuh, ditinggal kakak,”

      “Kok aku? Bukannya dia mengejar cintanya Clara?”

               “Enggak, kak. Emmm nggak tahu tuh, Kak Clara malah pacaran sama Kak Fahri,”

       “Pas Kak Amang mengejar Clara, aku sadar diri, Ren, aku nggak pantes buat Kak Amang,”

              “Tapi sorban yang dari kakak dipakai terus, loh, kak!”

        “Yang bener, Ren?”

               “Bener, kakakku sayang!”

        “Ah paling cuma buat pelarian dari Clara?”

      “Nggak tau juga, sih, katanya Kak Amang terus berdoa buat kakak, semoga kak Cinta juga dapet pahala tiap sorban kakak dipakai olehnya,”

       “Udah, Ren! Nggak usah bahas kak Amang, aku nggak kuat :’( “

       “Kenapa? Kakak nangis?
     “Dulu aku ngerasa diabaikan, aku berkorban banyak untuk kak Amang, aku putusin cowokku demi dia, aku sempetin kirim salam buat dia tiap harinya tapi dia tak juga peka, sekarang pas dia ngarep, aku udah balikan sama mantanku; menghibur diri,”

        “Kak Cinta … bagaimana kalau kak Amang balik mengejar cintamu?”

   “Udah, lah, Ren! Aku nggak pantes buat dia yang sangat istimewa di mataku. Please! Bahas yang lain aja, sayang!”

          “Ohhh, eh aku besok ke pondok, kak! Besok kan hari Senin,”

       “Iya, sekolah yang rajin, sayang! Oh, ya, salam buat Clara sama Vera,”

           “Oke,”

     Dengan mengaku Renny, Amang tahu banyak hal tentang Cinta. Selama ini Cinta curhat pada Clara ternyata sia-sia, Cinta bercerita begitu leluasa kepada Amang ketika Amang mengaku Renny. Amang menyesali apa yang ia perbuat, ia hanya terpaku memandangi sorban biru tua pemberian Cinta, sorban itu dianggapnya materi semata, padahal Cinta menyelipkan doa dan harapan di tiap satuan benangnya.

Di sela kegiatan Amang di dapur pondok, ia membongkar kardus berisi buku bekas dan ia mendapati buku-buku Cinta yang tak terpakai lagi, sebab itu Amang tahu bahwa tiap buku Cinta selalu tertulis nama Amang atau Abdurrahman. Selembar demi selembar ia buka hingga ia menemukan sajak yang manis ejaannya dengan huruf rindu yang manis dan rapi barisannya seperti tempelan doa yang hilang ditelan kegelapan.

       Tak pernah ada kata salah untuk cinta … di antara semua mimpi, satu hal yang nyata adalah ketika aku menyadari tak lagi ada tanganmu dalam genggamanku. Karena aku ingin bahagia dan aku berhak bahagia tanpamu.

       Jejak yang kau bawa kembali melemparku pada duri tajam yang tak pernah kuinginkan untuk kupijak lagi. Maafkan jika mata ini menghianatiku, aku tak bisa melihart dengan jelas siapa dirimu, namun Tuhan bisa membaca apa yang tak bisa dibaca oleh pandanganku dan pandanganmu.

      Rasa ajaib itu membuatku menemukan di antara beribu bayangan, karena rasa itu begitu nyata. Ada harapan di hatiku meski kutahu itu mungkin sia-sia dan pasti sia-sia. Ada saatnya kita benar-benar mengerti dan waktu tak pernah berhenti.

        Aku menemukanmu saat rintik hujan berhenti, mengubah rona semestamu dalam isyarat sunyi; dan aku menemukanmu di sini. Ya, terkadang cinta dan kehilangan berjalan beriringan …. teruntuk Abdurrahman.

















Ridhomu Dengan Ridho Nya


    Sabit baru saja pulang ke langit sebelah, menjumpai iparnya yang kerap disapa kejora, sedang tsuroya(1) hanya menatap dari kejauhan. Kulihat mentari jinjit untuk menerawang tingginya kasih ibu yang tergantung di jemuran. Dalam satu hanger saja, ada sejuta cerita, ada senyum, ada tangis, ada rindu, ada kasih, dan ada cinta yang terjemur bersama mukena.

    Semalam, ketika angin lari berebut sisa cahaya senja, ada segelas kopi di samping kiriku bercerita pada embun bahwa ia tak akan pernah kering, embun berbalik cerita bahwa ia tak kan pernah surut dan akan terus tumbuh meski terus terjatuh. Di depan tatapku, dedaunan berdesakan berlomba menghitung bintang dan menebak-nebak, di langit mana akan kulukis senyum ibu. Di samping kananku, ada roh yang mendiami jasad yang terus menua, berbalut mukena putih yang bersimpuh di sepertiga malam, lalu menengadahkan tangannya hingga subuh mengucap salam.

    Mata enggan terpejam, kutoleh arah belakang hingga kulihat setengah rohku lari ke dimensi Sembilan belas tahun silam, ia membawaku kepada ingatan tentang bapak yang kelelahan, ibu menenangkannya dengan bacaan Al-Qur’an dengan pelafalan paling menyejukkan. Aku masih rewel dan meminta ibu menggambarkan bus kota dengan pensil yang kusodorkan, beliau menggambarkannya untukku meski sebenarnya tak bisa menggambar, dengan senyum dan kasih paling tulus, jemari beliau menari indah dengan goresan pensil di tembok, yang muncul hanya garis seperti bejana berhubungan dan lingkaran tak menentu bentunya yang katanya roda bus, lalu di atasnya beliau goreskan pensilnya dengan garis-garis tak beraturan.

    “Itu apa, bu’?” tanyaku

    “Ini bus, sayang! katanya minta gambar bus?”

    “Telus, ini apa?” tunjukku pada garis-garis tak beraturan itu.

    “Ini tebu, busnya ngangkut tebu,”

    “Tebunya mau di bawa ke mana?”
     “Ke pabrik, mau dibikin gula.”

      Sekarang kurindukan gambar bus yang mengangkut tebu itu, kuraba-raba tiap jengkal tembok rumahku, tapi tak ada, bukan tertutup cat tapi karena tembok itu sendiri sudah tak lagi ada. Ingin kutangisi, tapi kusadari hanya ibu yang bisa membungkus semesta di kantong plastik bekas bungkus krupuk yang didapatnya usai Barzanji-an(2).

      Kembali kutoleh belakang, tepatnya ketika aku masih jadi balita yang paling cerewet minta makan. Wajah imutku terlalu lamat-lamat untuk kuingat, hanya piring oval bergambar kelinci menjadi satu-satunya saksi yang tersisa untuk mengisahkan detail ceritaku melalui isyarat secentong nasi hangat.

“Bu’!ma’em!!!” teriakku masih tanpa dosa.

“Iya, ibu’ ambilkan, sayang!” ibu mondar-mandir cari nasi.

“Cepet!!!” teriakku tak mau menunggu, tapi ibu belum juga sampai, ”Bu’e cepet!!!”

Ibu lari dari luar rumah, beliau dapat setengah centong nasi dari tetangga, “Ini maemnya, sayang!”
“Suapin!” kataku manja.

Tangan suci beliau  dengan telaten menjumputi nasi, lalu menempelkannya pada butiran-butiran garam di tepi piring.

“Aaa’ … eeemmm,”

      Kukunyah benih takdir dengan seulas senyum bahagia, rona senja paling indah seolah pindah ke pipi ibu bersama sejuta madah, kuncup mawar mendadak mekar dan berubah dari putih menjadi merah, semerah pipi ibu saat menikmati senyumku, pun ada bunga semak yang turut mekar sore itu hingga ia disapa bunga pukul empat.

      Bapak pulang dari kerja, tiba-tiba beliau merebut piring dari tangan ibu dengan wajah kecemasan, “Nanti perut Kiki’ jadi sakit!” teriaknya pada ibu.Sikap bapak bukan tanpa alasan, beliau melihat garam di tepi piring itu bercampur pasir, mungkin sempat tumpah ketika ibu lari dari rumah tetangga. Aku hanya bisa menangis, sedang ibu menundukkan kepala, mencoba membendung air mata meski akhirnya tumpah juga. Ketiadaan dirasa kejam, lebih kejam dari hening yang tak pernah bisa dibanting.

      Bapak lari ke warung hendak hutang sebungkus mie instant yang waktu itu mahalnya Rp. 350,00. Beliau lari ke rumah, menyalakan api di tungku yang terbuat dari tanah liat meski retak parah, tungku itu tetap dipakai demi sesuap makan untukku, balita yang membenci waktu.

“Sabar, sayang! Sebentar lagi maem enak-enak,” tutur bapak sambil menata ranting sengon kering agar api terjaga, aku masih saja menangis, ibu memelukku dan menggendongmengitari tiap sudut rumah sambil bersholawat dengan suara paling sendu.
                      
 صلاةالله سلام الله # على يس حبيب الله             "صلاةالله سلام الله # على طه رسول الله       

               توسلناببسم الله # وبالهاديرسول الله                           وكل مجاهد لله # باهل البدرياالله" 
\


Merdu dan syahdu meski sebenarnya suara ibu biasa-biasa saja, tapi nyanyian itu kudengar sebagai alunan dari bidadari surga, bahkan mungkin lantunan ibu satu-satunya lantunan terindah di surga(ku) yang bahkan malaikatpun tak sanggup melantunkannya seperti ibu hingga aku terlelap dalam pelukan hangatnya.

   Mie telah tersaji, mangkuk dari keramik menebarkan aroma khas mie instant yang menjadi primadonanya makanan mewah bagi keluargaku.Bapak selalu menginginkan yang terbaik untukku, ibu mengajariku untuk selalu qona’ah, selalu mensyukuri nikmat Allah sekecil apapun. Bapak dan ibu adalah orang tua terbaik yang pernah kumiliki di dunia, jika nanti orang tuaku masuk neraka, aku bernadzar kepada Allah, aku akan mengadukan Sayyidina Malik AS kepada-Nya karena salah memasukkan orang ke neraka.

     Mie instant terbiarkan hingga dingin, bapak tidak memakannya karena beliau membuat mie itu untukku, beliau menahan laparnya hingga malam tiba, tapi aku terbangun sebelum adzan maghrib. Dengan senyum, bapak menyuapiku sesuap-demi sesuap mie yang telah dingin itu.Aku hanya makan seperempatnya dan sisanya dimakan bapak untuk sedikit mengusir lapar.

    Lalu ibu memandikanku dengan air hangat, beliau mengajariku untuk menghormati hari Jum’at.Jika hari-hari biasa mandi sehari dua kali, khusus untuk hari Jum’at mandi sehari tiga kali terhitung sejak Kamis sore.Mandi di Jum’at sore setelah melewati waktu ashar sudah dianggap mandi di hari Sabtu.

                                      ⁂

    Aku adalah balita yang diajarkan banyak hal tentang agama, yang sudah terbiasa berpuasa Ramadhan, yang hafal doa-doa, yang bicara santun terhadap siapapun, yang menjaga kebersihan dan kerapian, dan banyak hal yang belum tentu diajarkan ibu-ibu lainnya di dunia.

    Kini aku bukan lagi balita, aku remaja yang sering mengabaikan perintah orang tua.Aku bisa menggambar, bahkan aku bisa melukis takdir di kanvas yang berbingkaikan gurat senyum paling indah, kumulai dari pinggir bibir gadis yang terindah.Aku bisa bernyanyi lagu cinta, bahkan aku bisa melantunkan Al-Qur’an dengan Rast ‘ala Nawa. Aku bisa masak beras 30 kg dan mie instant tiga dus sekaligus tanpa bantuan orang tua, yang lebih mengesankan lagi, aku bisa memasak mimpi dan menanak senyum dan tawa hingga mimpi-mimpi itu terasa renyah saat dikunyah.

    Jika saja esok masuk surga, akan kucari gambarpaling indah yang digambar ibu. Ya, gambar bus pengangkut tebu yang hilang bersama temboknya. Aku akan memajangnya di dinding istana surga, ‘kan kupamerkan pada penduduk surga, “Ini lukisan terindah yang pernah ada di dunia sampai di surga.”

   Aku juga akan mencari suara lantunan sholawat badar dari lisan ibu, akan kuperdengarkan pada kepada seluruh penghuni Firdaus bahwa ini adalah suara terindah yang pernah ada. Akan kukatakan kepada Sayyidah Fathimatuz Zahra binti Muhammad dan Sayyidah Khodijah bahwa akulah saksi yang mendengar kesyahduan lantunan itu dari ibu, biar mereka menyampaikan kepada Rasulullah bahwa ada wanita yang memujinya usai ‘ashar di hari Kamis hingga anaknya terlelap.

    Tak lupa kucari semangkuk mie instant dingin yang direbus oleh bapakku dalam keadaan lelah, lalu kuhangatkan kembali dan menyajikannya sebagai masakan yang tak ada duanya di surga ‘Adn, kubagikan pada seluruh pengunjung pasar wajah yang mana pasar itu buka setiap hari Jum’at. Bahkan kusisihkan mie yang telah kembali hangat dan nikmat itu untuk bidadari-bidadari yang tak terhitung jumlahnya

     Juga setengah centong nasi dan garam dari tetangga yang didapat ibu sewaktu di dunia, akan kujadikan saksi untuk mengajak tetanggaku bertetangga lagi di surga bersama Rasulullah, orang-orang yang benar, para Syuhada’ dan orang sholeh.

     Untuk ahli neraka, aku punya persembahan, mungkin hanya secawan saja, secawan air mata yang tak ada duanya di surga. Bersama air matanya orang yang menangis di tengah gulita mengharap ampunan untuk ummat Muhammad, air mata itu akan terkumpul amat banyak hingga cukup untuk menyiram bara jahannam hingga padam, lalu seluruh Ummat Muhammad masuk surga seluruhnya.

                                                                                                                           Surgaku