Gemuruh shalawat dan suara rebana menghias malam Arafah, Abdurrahman atau sering disapa Amang malah asyik memainkan gadget mentang-mentang duduk di belakang, padahal Amang bisa vokal atau menabuh alat-alat rebana, tapi entah mengapa ia memilih duduk di belakang atau sering kali lebih memilih membuat kopi untuk acara maulid.
Tak pernah tampil di depan layar membuat Amang tak lagi digemari santri putri, hanya Cinta; gadis yang tak pernah bosan memperhatikan semua hal tentang Amang, sayangnya Amang malah jatuh hati pada Clara, gadis yang mengagumi Amang hanya ketika Amang sering vokal atau tampil di depan layar. Ketika Amang mundur, Clara memilih Ryan yang sering tampil di muka jama’ah.
Kecewa dengan Clara, Amang pergi meninggalkan pondok pesantren cukup lama, tak lagi menghubungi Clara seperti biasanya. Ketika Clara mulai kesepian, Clara menghubungi Amang seperti saat Clara masih mengagumi Amang ketika ia sering menjadi vokal rebana. Tak ada tanggapan dari Amang seolah Amang adalah idola yang tak menghargai fansnya.
Lama di rumah membuatnya rindu pada Cinta, gadis yang tak pernah diperhatikannya itu mulai muncul di benaknya. Amang pun mulai menyadari dan menghargai perasaan Cinta, ia ingin menebus kesalahannya telah menyia-nyiakan orang yang tulus. Amang kembali ke pesantren untuk menemui Cinta, sayangnya Cinta pun pergi dan tak akan pernah kembali.
Amang membuka lembaran lama dari catatan tentang Cinta, menguak rahasia-rahasia tentang Cinta yang terpendam di bibir Clara. Semua tentang Cinta. Banyak hal yang tak diketahui Amang tentang Cinta sebab Amang hanya memperhatikan Clara dan berharap Clara akan jadi masa depannya meski nyatanya perhatian Clara hanya sesaat, tinggal sesal dalam diri Amang telah mengabaikan Cinta.
Ilham Abdurrahman, nama itu tertulis di buku-buku dan kitab-kitab Cinta dan semua hal tentang Amang diperhatikan sedetail mungkin oleh Cinta. Meski tak lagi vokal dalam acara maulid, Amang sesekali adzan di masjid dan adzannya ditirukan Cinta dari balik jendela kamar tiga, Cinta hafal setiap lengkuk nada yang dilantunkan Amang meski ia tak mengerti olah vokal, bahkan ketika nadanya amat tinggi, Cinta tetap menirukan adzannya meski sumbang dan nafasnya tak sampai, sejenis kasih tak sampai.
Fahri dan Amang tak lagi akrab, mereka seperti orang yang tak saling kenal. Fahri jauh dari Amang karena mempertahankan Clara, sedang Amang memilih diam dari keduanya agar tak dicap sebagai perusak hubungan orang, sempat dibilang sombong oleh Clara, tapi Amang tetap acuh demi menjaga perasaan Fahri.
“Ada yang bilang aku sombong ☹ padahal kan sebaliknya,” inbox dari Clara.
“☺,” balas Amang.
“Hanya itu?”
“(y)”
Emotikon senyum dan jempol serasa cukup untuk mewakili kebohongan rasa yang dialami Ryan, ia amat kecewa pada Clara yang pernah ikrar atas nama Allah untuk tidak berpacaran bahkan kepada Amang sekalipun, tapi Clara melupakannya.
“Jika aku di posisimu, aku pasti saaaannngat menyesal telah menyia-nyiakan Cinta,” ucap Farhan dengan gaya bicara yang lebay.
“Gini, vroh … aku di sini, kan, sebagai anak ndalem, nggak bisa ngaji, ya wajar, donk, kalau aku mengharap Ustadzah Clara, biar anakku pinter seperti dia,” jelas Amang.
“Faktanya? Apakah dia benar-benar ustadzah yang solikuuuaaahhh?”
“Nah itu dia yang sangat kusesalkan,”
“Dan ketika kamu mencari Cinta, Cinta sudah di pelukan orang lain,”
“Ketipu aku, mulut ustadzah itu bikin diabetes,”
“Padahal Ustadzah itu sipit, pesek, Cuma menang putih dan seksi, coba bandingkan dengan Cinta, dia itu perpek (mungkin maksudnya perfect), hanya saja dia amat polos, kasarnya dia itu bodo,”
“Andai waktu bisa diulang, aku ingin memperbaiki diri dan menghargai perasaan orang lain. Tapi nggak papa wes, aku dapet sorban biru dikasih Cinta,”
“Terus, apa yang kamu dapet dari ustadzah Clara?”
“Luka,”
“Kok masih bisa tersenyum?”
“Lupa itu manusiawi, Clara lupa dengan janji berarti ia manusia, bukan bidadari. Lagian aku murah senyum,”
“Sok kamu. Sekarang Clara gimana?”
“Aku cuekin, dia sempet inbox bilang aku sombong, aku cuma bales emotikon senyum, dia inbox lagi, aku bales emotikon senyum yang lebih ramah lagi hingga akhirnya dia sebel bel bel, aku bales emotikon jempol,”
“Mungkin Clara ada masalah dengan Ustad Fahri, makanya Clara ngrasa butuh kamu,”
“Aku, sih, cuek,”
“Ntar aku lihat inboxnya,”
“Emang kamu nggak bawa hape?”
“Masih aku charge di kamar,”
“Tega nggak tega, sih, nyuekin ustadzah. Tapi apa salahnya?”
“Denger-denger, persahabatannya dengan Vera dan Lusi juga bubar, Renny juga males sama Clara. Aneh, sih, persahabatan dikasih nama, kaya genk motor aja,”
Perbincangan Amang dan Farhan menghangatkan suasana, persahabatan mereka lebih indah dari senyum Clara. Biar mereka abdi ndalem, mereka punya hal yang lebih berharga dari pada cinta buta. Kedekatan mereka tetap terjaga, tak seperti Clara yang mengkhianati Cinta, Vera, dan Lusiana. Kini Clara sendiri, tak punya teman. Renny, gadis yang mulai dewasa yang dirawat Clara sejak kecil pun kecewa, Renny pun meninggalkan Clara. Pantas jika Clara inbox Amang; Clara kesepian.
Ketika Cinta merasa terabaikan, ia sakit-sakitan hingga harus dilarikan ke rumah sakit dan terpaksa meninggalkan pelajaran di sekolah dan pesantren untuk waktu yang cukup lama hingga test semester pun ia tinggalkan selama tiga hari. Seminggu setelah dirawat di rumah sakit, Cinta mulai membaik.
Di rumah, Cinta terbujuk godaan penggembala yang ditugaskan untuk mencari domba(nya) Yesus yang katanya tersesat, perhatiannya yang amat berlebih membuat Cinta serba tak enak hati kepadanya. Merasa tak ada pilihan lain, Cinta terpaksa mengikuti kemauan sang penggembala pergi merantau bersama ke Bandung. Padahal pilihannya untuk tetap tinggal di pesantren dan melanjutkan ngajinya agar semakin fasih, tapi ia merasa terabaikan dan tersakiti, pun ayahnya tak lagi sanggup membiayai. Mau tak mau, Cinta meninggalkan pesantren dan semua kenangannya bersama Amang usai menyelesaikan ujian sekolah.
Sebulan dari kelulusan Cinta, Amang menghubunginya melalui SMS ke nomor Cinta yang didapatnya dari Renny. Amang menghubungi Cinta atas nama Renny, Amang ingin tahu banyak hal tentang Cinta yang selama ini disembunyikan Clara.
“Kak Cinta!”
“Iya, siapa?” Cinta tak mengenali bahasa SMS Renny sebab banyak yang menyapanya Kak.
“Kak Cinta, mah …” Amang memang pandai menirukan SMS ala perempuan.
“Kamu Clara apa Vera?”
“Bukan keduanya,”
“Oh, Renny? Ya Allah kakak kangen, sayang!”
“Aku juga, kak. Tapi kalau mau ketemu susah, ya, kak? Kamu sekarang, kan, di Bandung,”
“Tahu dari siapa, Ren?”
“Kak Amang,”
“Ya Allah, dia tahu banyak hal tentang aku, ya, Ren? Oh, ya, kabar kak Amang gimana, sayang?”
“Galau, tuh, ditinggal kakak,”
“Kok aku? Bukannya dia mengejar cintanya Clara?”
“Enggak, kak. Emmm nggak tahu tuh, Kak Clara malah pacaran sama Kak Fahri,”
“Pas Kak Amang mengejar Clara, aku sadar diri, Ren, aku nggak pantes buat Kak Amang,”
“Tapi sorban yang dari kakak dipakai terus, loh, kak!”
“Yang bener, Ren?”
“Bener, kakakku sayang!”
“Ah paling cuma buat pelarian dari Clara?”
“Nggak tau juga, sih, katanya Kak Amang terus berdoa buat kakak, semoga kak Cinta juga dapet pahala tiap sorban kakak dipakai olehnya,”
“Udah, Ren! Nggak usah bahas kak Amang, aku nggak kuat :’( “
“Kenapa? Kakak nangis?
”
“Dulu aku ngerasa diabaikan, aku berkorban banyak untuk kak Amang, aku putusin cowokku demi dia, aku sempetin kirim salam buat dia tiap harinya tapi dia tak juga peka, sekarang pas dia ngarep, aku udah balikan sama mantanku; menghibur diri,”
“Kak Cinta … bagaimana kalau kak Amang balik mengejar cintamu?”
“Udah, lah, Ren! Aku nggak pantes buat dia yang sangat istimewa di mataku. Please! Bahas yang lain aja, sayang!”
“Ohhh, eh aku besok ke pondok, kak! Besok kan hari Senin,”
“Iya, sekolah yang rajin, sayang! Oh, ya, salam buat Clara sama Vera,”
“Oke,”
Dengan mengaku Renny, Amang tahu banyak hal tentang Cinta. Selama ini Cinta curhat pada Clara ternyata sia-sia, Cinta bercerita begitu leluasa kepada Amang ketika Amang mengaku Renny. Amang menyesali apa yang ia perbuat, ia hanya terpaku memandangi sorban biru tua pemberian Cinta, sorban itu dianggapnya materi semata, padahal Cinta menyelipkan doa dan harapan di tiap satuan benangnya.
Di sela kegiatan Amang di dapur pondok, ia membongkar kardus berisi buku bekas dan ia mendapati buku-buku Cinta yang tak terpakai lagi, sebab itu Amang tahu bahwa tiap buku Cinta selalu tertulis nama Amang atau Abdurrahman. Selembar demi selembar ia buka hingga ia menemukan sajak yang manis ejaannya dengan huruf rindu yang manis dan rapi barisannya seperti tempelan doa yang hilang ditelan kegelapan.
Tak pernah ada kata salah untuk cinta … di antara semua mimpi, satu hal yang nyata adalah ketika aku menyadari tak lagi ada tanganmu dalam genggamanku. Karena aku ingin bahagia dan aku berhak bahagia tanpamu.
Jejak yang kau bawa kembali melemparku pada duri tajam yang tak pernah kuinginkan untuk kupijak lagi. Maafkan jika mata ini menghianatiku, aku tak bisa melihart dengan jelas siapa dirimu, namun Tuhan bisa membaca apa yang tak bisa dibaca oleh pandanganku dan pandanganmu.
Rasa ajaib itu membuatku menemukan di antara beribu bayangan, karena rasa itu begitu nyata. Ada harapan di hatiku meski kutahu itu mungkin sia-sia dan pasti sia-sia. Ada saatnya kita benar-benar mengerti dan waktu tak pernah berhenti.
Aku menemukanmu saat rintik hujan berhenti, mengubah rona semestamu dalam isyarat sunyi; dan aku menemukanmu di sini. Ya, terkadang cinta dan kehilangan berjalan beriringan …. teruntuk Abdurrahman.